PENYEMPURNAAN
PENYEMPURAAN ARWAH (ROH)
Banyak sekali terdapat tata cara
penyempurnaan arwah. Masing-masing daerah, wilayah, budaya, ajaran,
memiliki tradisi masing-masing. Penyempurnaan arwah bukan berarti
sepenuhnya “nasib” tergantung dari orang yang menyempurnakan. Namun
demikian, penyempurnaan sebagai wujud aklamasi, yang melibatkan kedua
belah pihak, yakni pihak roh dan orang yang masih hidup. Aklamasi berisi
ungkapan rasa perpisahan tanpa ada ganjalan lagi. Masing-masing, baik
yang meninggalkan maupun yang ditinggal merasa ikhlas dan rela. Dan
masing-masing menyadari bahwa sudah berbeda alam dan berlainan
urusannya. Bagi keluarga yang ditinggalkan sudah merasa ikhlas dan
memberikan doa restu bagi arwah untuk melanjutkan “perjalanan” ke alam
baka, alam kelanggengan tempat di mana kehidupan yang sejati berada.
Bagi arwah sendiri, telah rela melepaskan segala urusan keduniawian, dan
menetapkan dalam satu tujuan yakni menghadap kepada Sang Causa Prima
Pencipta alam semesta. Sehingga bagi arwah sudah tiada lagi urusan
duniawi yang mengganjal atau yang masih membuat penasaran (arwah
penasaran). Semua urusan duniawi telah diikrarkan untuk dilanjutkan dan
dituntaskan oleh segenap keluarga yang ditinggalkan.
Tatacara yang sejauh ini saya ketahui,
misalnya dalam tradisi Nasrani dikenal dengan Missa Arwah. Dalam tradisi
Islam dikenal dengan tradisi selamatan doa Yaa-Sin (Yaksinan),
baca doa Al-Mulk dsb. Dalam tradisi Hindu dan Budha, Kong Hucu dst
tentu saja dikenal tradisi penyempurnaan arwah yang berbeda-beda. Pun
demikia pula setiap suku dan budaya memiliki tradisinya masing-masing.
Berikut ini saya kemukakan menurut tradisi Jawa.
Tradisi Tumpeng Pungkur
Dalam upacara penyempurnaan arwah menurut tradisi Jawa dikenal dengan uborampe tumpeng pungkur.
Dilakukan pada saat kematian seseorang, bisa pula pada hari ke 3, ke 7,
ke 40, ke 100, ke setahun, atau hari ke 1000-nya. Adapun uborampe yang
diperlukan adalah sbb :
- Sayur 7 macam, mislanya : kangkung, kacang panjang, bayem, kubis, kecambah, wortel, buncis dsb.
- Daun pisang.
- Nasi untuk membuat tumpeng.
- Telor ayam 1 butir direbus.
- Bumbu gudangan tidak pedas, mirip seperti bumbu bancakan weton (selapanan) untuk bayi. Bumbunya bisa dilihat di sini .
- Kembang setaman.
- Saringan santan kelapa dari bambu atau kalo.
- Cobek tanah terbuat dari liat.
Kalo dan cobek harus yang baru atau belum pernah digunakan sebelumnya (tidak boleh bekas pakai).
Cara membuat :
Pertama-tama alasi kalo dengan daun
pisang. Kemudian cetaklah nasi dalam bentuk tumpeng dengan ukuran sedang
atau kecil. Diameter tumpeng pada bagian bawahnya kira-kira cukup
antara 10-20 cm saja. Tumpeng dicetak tepat di tengah-tengah kalo yang
diletakkan di atas cobek. Setelah tumpeng tercetak, kemudian dibelah
dengan menggunakan pisau menjadi dua, tepat dari ujung hingga pangkal
tumpeng, masing-masing bagian diusahakan seimbang tidak besar kecil.
Setelah tumpeng terbelah menjadi dua bagian, masing-masing bagian
diputar 180 derajat menjadi saling berungkuran atau saling membelakangi (lihat gambar).
Seluruh sayuran dan telor ayam direbus. Kangkung dan kacang panjang harus dipotong-potong. Selanjutnya ketujuh macam sayur diletakkan di dalam kalo
melingkar mengelilingi tumpeng nasi. Letakkan bumbu gudangan di antara
tatanan sayur tersebut. Telor ayam yang sudah direbus lalu dikupas,
kemudian dibelah menjadi dua pula. Masing-masing bagian ditempelkan
secara terbalik ke punggung tumpeng. Siapkan delingo dan bengle, iris beberapa potong dan letakkan secara acak di sekitar tumpeng pungkur. (lihat gambar)
Siapkan kembang setaman di dalam mangkuk isi air, boleh juga di dalam piring dialasi daun pisang.
Setelah semua uborampe siap, kemudian
bagi yang muslim bacakan doa al fatikah, al ikhlas lalu al mulk. Bila
kebetulan agama Kristen, bisa dilakukan doa-doa biasa digunakan dalam
missa arwah. Namun dalam tradisi Jawa berikut ini doa pengkabulannya :
Niat ingsung nyampurnaake arwah jabang bayine … (sebutkan namanya). Tali
wangke sampar wangke, terusno lakumu, aja parang tumuleh, lepaso parane
jembaro kubure, sing ditinggal slamet sing ninggal slamet, soko kersane
Gusti”.
Setelah itu tumpeng pungkur dan kembang
setaman diletakkan di dalam rumah saja selama satu malam. Keesokan
harinya tumpeng pungkur dan bunga setaman bisa dibuang. Namun lebih baik
dihanyutkan saja di sungai/air yang mengalir.
Adapun efek dari tumpeng pungkur dapat dibuka di sini.
0 komentar:
Posting Komentar